Tragedi di musim dingin(True Story)

Nopember 19th, 2008 by meisi

Tragedi di musim dingin (true story, seperti temuat dalam Xia
Wen Pao, 2007)
     Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil
berumur 7 tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri
kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua.
     Hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain.

     Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan
melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar
Lie Mei   menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru.

     Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah
tidak terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah. Marahlah Siu Lan. Putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup  susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya.

     Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi ? Mereka harus dapat uang untuk makan.

     Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan  dari luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran, pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.

     Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu     tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang  membeku dan sudah tidak bernyawa. Siu Lan berteriak membelah kebekuan salju dan menangis meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak.  Dengan segera, Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke rumah.

     Siu Lan menggoncang- goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil  meneriakkan nama Lie Mei. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari  tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, dia membukanya.
     Isinya sebungkus kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Siu Lan mengenali tulisan pada kertas usang itu adalah tulisan Lie Mei yang masih berantakan namun tetap terbaca *,”Hi..hi..hi. . mama pasti lupa. Ini hari istimewa buat mama. Aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk membeli biskuit ukuran besar. Hi.hi.hi.. mama selamat ulang tahun. “*

Jangan benci aku, mama……

Nopember 19th, 2008 by meisi

Untuk bahan renungan….
Bagus untuk dibaca ….
Betapa teganya seorang ibu terhadap anak…….
(kisah nyata di Irlandia utara
jangan benci aku,… Mama

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,
wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku,
memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak
ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang
lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan.
Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya
membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun
melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya
menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga
Sam.
Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya
pakaian anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya
dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam
berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih
penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.
Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4
tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang
yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan
membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung
kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya
tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah
rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5
tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia
Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-
sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah
sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica
telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri
sekolah perawatan.

Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang
mengingatnya.

Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak.
Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah
saya. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya?
Saya lindu
cekali pada Mommy!”

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya
menahannya, “Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak
manis?”

“Nama saya Elic, Tante.”
“Eric? Eric… Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?”

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai
perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba
terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film
yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa
jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu.
Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak
pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba
bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan
menjemputmu Eric…

Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan
Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa
yang sebenarnya terjadi?”

“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal
yang telah saya lakukan dulu.” Tapi aku menceritakannya juga dengan
terisak-isak…

Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami
yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya
keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap
lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya
mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan
lamanya dan Eric.. Eric…

Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan
sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang
terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apa
pun!

Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan
kecil itu.

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada
sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya
mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya
mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu
dikenakan Eric sehari-harinya…

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya
pun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir dengan deras.
Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai
menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat
seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana
saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang
demikian kotor.

Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala
ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal
dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”
Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk!

Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya disini,
Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena
tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal
bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai
pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti
itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia
belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis
ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…
“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama
Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus
berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”

Saya menjerit histeris membaca itu. “Bu, tolong katakan…
katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya
sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong
katakan..!!”

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric
telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya
sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan
di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut
apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya
ada di dalam … Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari
belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang
lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana . Nyonya,dosa anda
tidak terampuni!”

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

MOTIVATION

Nopember 19th, 2008 by meisi

Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta . Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur.
Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan. ” Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si Pemuda. “Oh… Saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua” jawab ibu itu.

” Wouw….. hebat sekali putra ibu” pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak. Pemuda itu merenung.
Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.

” Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya Bu??  Bagaimana dengan kakak-adik adik nya??”

“Oh ya tentu..” si Ibu bercerita :
“Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang ,
 yang keempat kerja di Perkebunan di Lampung,
yang kelima menjadi arsitek di Jakarta ,
yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto,
yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.””

Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan
sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh.

“terus bagaimana dengan anak pertama Ibu ??”

Sambil menghela napas panjang, Ibu itu menjawab,
“Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak,
Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar “

Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu….. sepertinya Ibu agak kecewa ya dengan anak pertama Ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani?”

Dengan tersenyum Ibu itu menjawab,
 

” Ooo… tidak.. tidak begitu Nak….
Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang
membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”

Today’s lesson :

Everybody in the world is a important person.

Open your eyes. …your heart….your mind….your point of view because we can’t make summary before read “the book” completely. The wise person says…The more important thing is not WHO YOU AREBut WHAT YOU HAVE BEEN DOING.

What’s wrong with you, susan….???

Nopember 19th, 2008 by meisi

Sebenarnya dari malam senin susan misscall, dari situ aku udah bertanya2 ada apa tengah malam gini miskal….. aku telpon balik katanya dengan suara yang pelan “ntar gue telp ci….” trus aku sms, tapi jawabannya sepertinya tidak mau diganggu. Ya sudah aku biarkan dia merenung dulu.

Tapi sampe kemaren sore belum ada telp dari susan, sampai akhirnya ketemu secara tidak sengaja sekilas aku lihat antara percaya dan tidak, itu susan bukan…????

Aku telpon hpnya dan ternyata itu memang benar dia, ya ampun sebegitu kurus dan tirusnya wajahnya padahal tiga hari yang lalu sepulangnya dia dari singapore masih segar wajahnya dan badannya gemukan dikit.

Kenapa san? Dan dia cuma jawab, wawan gak pulang ci dari minggu, ntar gue ceritain.

Sudah aku tebak, pasti suaminya. Biasa sih sebenarnya pertengkaran suami istri itu biasa…..

Aku tunggu lagi telpon kedatangannya, tapi nol. Ya sudah, mungkin dia masih belum mau berbagi. Tapi jujur aja mendengar sahabat sedih, hatiku juga ikut sedih, aku turut merasakan apa yang dirasakannya.

I always want it……..

Nopember 19th, 2008 by meisi

Wah, jujur aja aku ngerasa heppy banget pagi ini….., trimakasih suamiku tercinta……

Halo dunia!

Nopember 17th, 2008 by meisi

Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!